Kamis, 25 September 2014

Brand equity, brand building, brand awarness dan Merk



1.                                                                                                                                                       Brand equity
a.      Definisi :
 Brand equity adalah pengukuran atau nilai seorang konsumen terhadap penilaian sebuah produk baik menambah atau mengurangi penilaian tergantung dari kekuatan brand yang ditawarkan kepada pasar, dapat diketahui dari respon konsumen terhadap barang atau jasa yang ditawarkan.
Menurut East (1997), “Brand equity or brand strength is the control on purchase exerted by a brand, and, by virtue of this, the brand as an asset that can be exploited to produce revenue” (p. 29).
Artinya ekuitas merek atau kekuatan merek adalah kontrol dari pembelian dengan menggunakan merek, dan, kebaikan dari merek, merek sebagai aset yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan.
b.      Pengukuran brand equity
Menurut Soehadi (2005), kekuatan suatu merek (brand equity) dapat diukur berdasarkan 7 indikator, yaitu:
1. Leadership: kemampuan untuk mempengaruhi pasar, baik harga maupun atribut non-harga. Maksudnya yaitu produk atau jasa yang ditawarkan dapat mempengaruhi pasar lewat harga, karena harga adalah indikator nilai atau kualitas yang dikeluarkan produk.
2. Stability: kemampuan untuk mempertahankan loyalitas pelanggan. Apabila pelanggan sudah melihat kekuatan brand yang dibangun maka terciptalah rasa puas bagi konsumen itu sendiri, kualitas brand mempertahankan citra konsumen terhadap produk itu sendiri.
3. Market: kekuatan merek untuk meningkatkan kinerja toko atau distributor. Kekuatan yang dibagun dalam segi penempatan dimanakah produk akan dipasarkan, agar sesuai dengan target pasarnya.
4. Internationality: kemampuan merek untuk keluar dari area geografisnya atau masuk ke negara atau daerah lain. Kekuatan suatu brand yang sudah menanamkan citra baru ingin menambah koneksi bisnis atau hubungan dengan negara lain agar mendapatkan keuntungan, apabila sudah diakui oleh konsumen regional tentu saja kekuatan suatu brand ingin disebarluaskan untuk pemenuhan kebutuhan.
5. Trend: merek menjadi semakin penting dalam industri. Dalam memproduksi suatu barang ada baiknya memperhatikkan trend atau produk yang sedang dibutuhkan saat ini, melihat daya saing serta pesaingnya. Sehingga trend membuat kekuatan citra baru yang dibentuk oleh perusahaan.
6. Support: besarnya dana yang dikeluarkan untuk mengkomunikasikan merek. Dalam mengkomunikasikan perlu beberapa media pendukkun yang tentu saja dana yang dibutuhkan tidak murah, perjuangan dalam menanamkan kekuatan brand dibenak konsumen diawali dengan mengkomunikasikkan merk tersebut lewat berbagai media.
7. Protection: merek tersebut mempunyai legalitas. Kekuatan sebuah brand tentu saja brand tersebut haruslah memiliki izin yang sah atau legalitas agar membuat produk itu sendiri terlihat lebih berkualitas karena memiliki ke-legalan dari pihak yang bersangkutan.


                                                                                      Brand building
a. Definisi :
Brand atau merek adalah kombinasi atau identitas sebuah perusahaan yang menghasilkan produk atau jasa, ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan produk atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual, Brand building adalah membangun citra perusahaan yang membedakkan antara perusahaan dengan perusahaan lain atau pesaingnya. Brand building dapat dikatakan sebagai jalinan atau hubungan berupa ikatan emosional yang terikat antara konsumen dengan produk yang ditawarkan.
Brand building berkaitan erat dengan
1.      Emosi konsumen yang terkadang turun naik terhadap brand
2.      Brand yang kuat akan mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar. Ia mampu diterima seluruh budaya didunia

3.      Kemampuan suatu brand untuk berinterkasi dengan konsumennya. Semakin kuat suatu merek, makin kuat pula interaksinya dengan konsumen dan makin banyak asosiasi merek yang terbentuk memiliki kualitas dan kuantitas yang kuat, potensi ini akan meningkatkan brand image (citra merek)

4.      Dapat. mempengaruhi perilaku konsumen

5.      Sebagai pembeda dengan produk lain yang dapat memudah konsumen dalam memilih produk sejenis

6.      Merupakan aset perusahaan

Hal yang harus diperhatikan dalam mebangun sebuah brand :
1. Mudah diingat
Artinya elemen merek yang dipilih hendaknya yang mudah diingat, dan disebut/diucapkan. Simbol, logo, nama yang digunakan hendaknya menarik, unik sehingga menarik perhatian masyarakat untuk diingat dan membangun image atau citra baru yang melekat dalam ingatan konsumen.

2. Memiliki makna
Artinya elemen merek hendaknya mengandung sebuah makna maupun penjelasan dari produk. Diharapkan makna ini dapat mempengaruhi konsumen untuk mengkonsumsi produk tersebut.
Deskripsi makna yang terkandung dapat berupa:
a. informasi umum tentang kategori dan isi dari produk
b. informasi tentang komposisi penting yang ditonjolkan produk dan manfaat dari produk.

3. Menarik dan lucu
Pendekatan lain untuk menarik perhatian konsumen adalah dengan variasi elemen merek yang unik, lucu, pemilihan elemen yang kaya akan visualisasi dan imajinasi. Dalam hal ini yang ditonjolkan adalah desain yang menarik dan lucu.

4. Fleksibel
Artinya elemen merek dapat dimengerti dan tetap dapat diterima oleh daerah/pasar, bahkan budaya lain. Nama yang digunakan pun tidaklah terlalu sulit untuk diterjemahkan. Seringkali pemilihan elemen merek mudah diingat oleh masyarakat lokal, namun sangatlah sulit dimengerti oleh masyarakat lain. Hal ini tentunya akan menghambat produsen untuk masuk dalam pasar yang baru.

                            Brand awarness
a. Definisi :
Pengertian dari Brand Awareness itu sendiri adalah  kemampuan dari seseorang yang merupakan calon pembeli (potential buyer) untuk mengenali (recognize) atau menyebutkan kembali (recall) suatu merek merupakan bagian dari suatu kategori produk. Brand awarness juga merupakkan penanaman citra atau image yang sudah ada dalam benak konsumen, sebuah perusahaan dikatakan berhasil apabila sudah membrandingkan produk atau jasa yang diproduksinya.
            b.3 hal penting tentang brand awarness
            Menurut Aaker, brand awareness sendiri didefinisikan menjadi 3 tingkatan, yakni sebagai berikut :
  1. Brand recognition (pengenalan), merupakan tingkatan yang paling rendah, dimana para konsumen baru mengenal sebuah merek dan masih membutuhkan alat bantu untuk bisa mengingat merek tersebut.
  2. Brand recall (mengingatkan kembali), kesadaran merek langsung muncul di benak para konsumen setelah merek tertentu disebutkan. Berbeda dengan recognition yang membutuhkan alat bantu, brand recall hanya membutuhkan pengulangan/ penyebutan ulang untuk mengingat merek produk.  
  3. Top of mind (puncak), adalah tingkatan tertinggi dimana merek tertentu telah mendominasi benak para konsumen, sehingga dalam level ini mereka tidak membutuhkan pengingat apapun untuk bisa mengenali merek produk tertentu.
c.       4 nilai brand awarness
  1. Anchor to which other associations can be attached Brand Awareness akan menyebabkan timbulnya asosiasi seseorang,seperti asosiasi yang timbul pada McDonald adalah Ronald McDonald, anak-anak, fun, Big Mac, bersih dan efisien. Asosiasi yang luas tersebut kemudian dapat diperkuat dengan menggambungkan satu asosiasi dengan yang lain seperti Ronald McDonald dengan anak-anak. Dengan memperkuat asosiasi tersebut nama McDonald akan semakin kuat pada memori seseorang.
  2. Familiarity /Liking secara umum seseorang lebih menyukai sesuatu yang lebih familiar. Salah satu penjelasan akan hal ini adalah orang lebih membeli produk-produk yang terkategorikan Low-involvement product seperti kertas tisu, permen karena mereka sudah familiar dengan merek tersebut.
  3. Substance / commitment semakin tinggi awareness atas suatu nama produk menunjukkan semakin tinggi commitment dari brand tersebut. Alasan yang dapat timbul mengapa seseorang dapat mengenali sebuah brand adalah :
    1. Perusahaan telah melakukan promosi secara terus-menerus;
    2. Perusahaan telah bergerak untuk waktu pada bidang tersebut;
    3. Perusahaan telah melakukan distribusi secara luas;
    4. Brand tersebut adalah Brand yang sukses, orang lain juga menggunakan Brand tersebut.
  4. Brand to consider Pada proses pembelian, langkah pertama yang dilakukan adalah pemilhan alternatif. Pada proses ini, ketersedian informasi menjadi sumber dari pemilihan tersebut. Proses Recall menjadi penting, karena biasanya tidak banyak nama brand yang muncul pada proses ini. Brand pertama yang muncul dalam benak seseorang, akan mendapatkan keuntungan yang lebih, dibandingkan dengan Brand yang memiliki tingkat Recall yang rendah.
d.      Cara agar mendapatkan brand awarness:
  • Be different, memorable Banyaknya pesan-pesan komunikasi pemasaran yang diterima oleh konsumen dalam kesehariannya, menyebabkan otak konsumen menjadi clutter. Untuk membuat konsumen tetap aware terhadap pesan yang disampaikan oleh perusahaan,  penyampaian pesan yang dilakukan haruslah berbeda sehingga diingat oleh target audience, seperti pendekatan (approach) atau tampilan (appeal) yang digunakan. Hal yang tetap perlu diingat kemudian adalah, walaupun komunikasi yang dilakukan berbeda, harus tetap mampu menciptakan hubungan antara brand dengan kategori produknya. Sebagai contoh: siapa yang bakal ingat kalau kita beriklan sebuah mobil sedan sedang berjalan di gunung.
  • Involve a slogan or jingle penggunaan slogan atau jingle dapat membantu karena dengan menggunakan slogan tersebut dapat memvisualisasikan karakteristik dari produk perusahaan tersebut.

  •      Symbol exposure penggunaan simbol ini mempermudah konsumen dalam mengenali suatu Brand, melalui tampilan visual symbol tersebut dibandingkan mengenali suatu kata atau frase yang digunakan oleh Brand tersebut.
  • Publicity keuntungan dari publicity ini tidak hanya lebih murah dibandingkan menggunakan media iklan, namun faktor efektifitas dari media  publicity ini juga cukup tinggi. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa orang lebih tertarik untuk mengetahui suatu berita baru daripada membaca iklan, contoh: kegemaran Obama menggunakan Blackberry yang disebutkan diberbagai media.
  • Event sponsorship Dalam suatu proses sponshorship yang berkesinambungan, akan mempererat asosiasi suatu event terhadap suatu Brand. Contoh dari asosiasi tersebut adalah bagaimana Rolex diasosiasikan dengan kejuaraan tenis Wimbeldon.
  • Consider brand extensions menggunakan nama brand pada produk lain adalah salah satu cara untuk meningkatkan brand recall. Beberapa perusahaan yang mengadopsi penggunaan brand extensions ini seperti coca-cola, Honda, Yamaha dan Sony.
  • Using cues Menggunakan isyarat/ panduan/petunjuk yang dapat membantu mengarahkan ke kategori produk atau ke Brand itu sendiri. sebagai contoh: Roger Federer dan Wilson
  • Recall requires repetition membangun awareness tidak serta merta terjadi dalam 1 hari, atau 1 kali beriklan, semua membutuhkan pengulangan dan kontinuitas. 
  •  
  • Sumber :
  • 1. http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/brand-equity-kekuatan-suatu-merek.html
    2. http://bisnisukm.com/brand-awareness.html





    MERK
     
    American Marketing Association mendefinisikan merek sebagai “nama, istilah, tanda, lambang, atau desain, atau kombinasinya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari salah satu penjual atau kelompok penjual dan mendiferensiasikan barang atau jasa dari salah satu penjual atau kelompok penjual dan mendiferensiasikan merek dari para pesaing.
    Peran merk yaitu sebaai identitas resmi sebuah produk. Merek juga melaksanakan fungsi yang penting bagi perusahaan. Pertama, merek menyederhanakan penanganan atau penelusuran produk, maksudnya yaitu fungsi merk disini jelas sebagai identitas perusahaan maka sebuah produk memiliki nama untuk memudahkan konsumen apabila mencari produk yang sesuai dengan kebutuhannya . Kemudian Merek membantu mengatur catatan persediaan dan catatan keuangan, sudah jelas produk yang didistribusikan adalah produk yang jelas dengan satu nama saja maka dalam pembukuan keuangan, perusahaan tidak kesulitan dalam mengatur keuangannya baik produksi maupun masukan. Merek juga menawarkan perlindungan hukum kepada perusahaan untuk fitur-fitur atau aspek unik produk, seperti merek dagang yang terdaftar, misalnya obat batuk yang diproduksikan memiliki izin dari badan kesehatan bahwa merk tersebut layak untuk dikonsumsi konsumen. Merek menandakan tingkat kualitas tertentu sehingga pembeli yang puas dapat dengan mudah memilih produk kembali (Mempengaruhi loyalitas pelanggan). Bagi perusahaan merekmemiliki pengaruh yang besar karena mempengaruhi perilaku konsumen, dapat dibeli dan dijual, dan memberikan keamanan pendapatan masa depan yang cukup menguntungkan bagi perusahaan.

    2.       Equitas merk
    a.       Definisi :
    Brand equity atau equitas merk adalah pengukuran atau nilai seorang konsumen terhadap penilaian sebuah produk baik menambah atau mengurangi penilaian tergantung dari kekuatan brand yang ditawarkan kepada pasar, dapat diketahui dari respon konsumen terhadap barang atau jasa yang ditawarkan.
    Menurut East (1997), “Brand equity or brand strength is the control on purchase exerted by a brand, and, by virtue of this, the brand as an asset that can be exploited to produce revenue” (p. 29).
    Artinya ekuitas merek atau kekuatan merek adalah kontrol dari pembelian dengan menggunakan merek, dan kebaikan dari merek, merek sebagai aset yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan.

    b.      Model dalam equitas merk
    Diferensiasi (Differentiation) mengukur tingkat sejauh di mana merek dianggap berbeda dari merek lain. Hal ini bersangkutan dengan respon konsumen untuk kedepannya, merk yang berbeda serta dapat mengikat konsumen dapat berpengaruh terhadap brand equity atau penilaian konsumen terhadap prosuk.
    Energi (Energy) mengukur arti momentum merek.
    Relevansi (Relevance) mengukur cakupan daya tarik merek. Merk yang memiliki daya tarik yang tinggi atau dapat dikatakkan lebih menonjol dibandingkan dengan merk pesaing tentu akan menjadi daya tarik tersendiri yang nantinya akan melekat dalam ingatan konsumen (brand)
    Harga diri(Esteem) mengukur seberapa baik merek dihargai dan dihormati.
    Pengetahuan (Knowledge) mengukur kadar keakraban dan keintiman konsumen dengan merek.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar